Dark Mode
  • Saturday, 06 June 2026
Angka Bunuh Diri di Indonesia Meningkat, Lebih dari 80 Persen Korban adalah Laki-Laki

Angka Bunuh Diri di Indonesia Meningkat, Lebih dari 80 Persen Korban adalah Laki-Laki

NEWSROOMINDO.COM – Kasus bunuh diri di Indonesia menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Data Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mencatat sebanyak 1.492 kasus bunuh diri sepanjang tahun 2025, menjadikannya angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

 

Di balik lonjakan tersebut, terdapat satu fakta yang menjadi perhatian para pemerhati kesehatan mental: mayoritas korban bunuh diri di Indonesia adalah laki-laki.

 

Berdasarkan data kepolisian, lebih dari 80 persen kasus bunuh diri yang terjadi sepanjang tahun lalu melibatkan laki-laki. Angka tersebut menunjukkan bahwa kelompok pria menjadi pihak yang paling rentan menghadapi tekanan hidup yang berujung pada tindakan fatal.

 

Fenomena yang Jarang Dibicarakan

 

Selama ini, isu kesehatan mental sering dikaitkan dengan perempuan atau remaja. Namun data menunjukkan bahwa laki-laki justru menjadi kelompok dengan tingkat kematian akibat bunuh diri yang jauh lebih tinggi.

 

Para psikolog menilai kondisi tersebut tidak lepas dari budaya sosial yang masih melekat di masyarakat. Banyak laki-laki tumbuh dengan anggapan bahwa mereka harus selalu kuat, tidak boleh terlihat lemah, dan dituntut mampu menyelesaikan masalah sendiri.

 

Akibatnya, tidak sedikit pria yang memilih memendam tekanan psikologis dibanding mencari bantuan profesional atau berbicara kepada orang terdekat.

 

Ketika masalah terus menumpuk tanpa penanganan yang tepat, risiko gangguan kesehatan mental dapat meningkat secara signifikan.

 

Lonjakan Kasus dalam Lima Tahun Terakhir

 

Jika melihat tren jangka panjang, peningkatan kasus bunuh diri di Indonesia terjadi secara konsisten.

 

Pada tahun 2020, jumlah kasus yang tercatat berada di angka sekitar 640 kejadian. Lima tahun kemudian, jumlah tersebut melonjak menjadi 1.492 kasus.

 

Artinya, dalam kurun waktu lima tahun terjadi kenaikan lebih dari 60 persen.

 

Sementara itu, pada tahun 2024 tercatat sebanyak 1.105 kasus, sedangkan tahun 2023 berada pada kisaran 1.288 hingga 1.350 kasus.

 

Kenaikan yang terus terjadi menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan lagi isu individual, melainkan telah menjadi tantangan sosial yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

 

Usia Produktif Menjadi Kelompok Paling Rentan

 

Selain didominasi laki-laki, mayoritas kasus bunuh diri juga terjadi pada kelompok usia produktif, yakni antara 26 hingga 45 tahun.

 

Kelompok usia ini umumnya menghadapi berbagai tekanan sekaligus, mulai dari tanggung jawab pekerjaan, kebutuhan ekonomi keluarga, cicilan, hingga tuntutan sosial yang tinggi.

 

Di sisi lain, kasus pada kalangan remaja juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Survei Kesehatan Indonesia dari Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi depresi pada kelompok usia muda mencapai 1,4 persen.

 

Meski persentasenya terlihat kecil, jumlah tersebut merepresentasikan jutaan penduduk usia muda yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental apabila tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

 

Faktor Ekonomi Menjadi Pemicu Dominan

 

Sejumlah penelitian dan pengamatan para ahli menunjukkan bahwa tekanan ekonomi menjadi salah satu faktor yang paling sering muncul dalam kasus bunuh diri.

 

Masalah utang, kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, hingga tekanan biaya hidup menjadi beban yang berat bagi sebagian masyarakat.

 

Fenomena pinjaman online yang semakin luas juga disebut ikut memperbesar tekanan psikologis pada sebagian korban.

 

Selain faktor ekonomi, konflik keluarga, perceraian, putus hubungan, kesepian, hingga perundungan turut menjadi pemicu yang banyak ditemukan dalam berbagai kasus.

 

Jawa Tengah dan Jawa Timur Menjadi Wilayah dengan Kasus Tertinggi

 

Berdasarkan sebaran wilayah, Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus bunuh diri tertinggi di Indonesia.

 

Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur yang rata-rata mencatat tiga hingga empat kasus setiap pekan.

 

Sementara Bali masuk dalam wilayah dengan tingkat fatalitas bunuh diri yang tinggi jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

 

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

 

Pentingnya Menghapus Stigma

 

Meningkatnya angka bunuh diri pada laki-laki menjadi pengingat bahwa kesehatan mental tidak mengenal gender.

 

Para ahli menilai salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah menghapus stigma terhadap laki-laki yang mencari bantuan psikologis.

 

Membicarakan masalah mental bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan diri.

 

Ketika seseorang mulai mengalami tekanan berat, depresi, atau kehilangan harapan, dukungan keluarga, teman, lingkungan kerja, serta akses terhadap layanan kesehatan mental dapat menjadi faktor penting untuk mencegah terjadinya tindakan yang lebih fatal.

 

Alarm bagi Semua Pihak

 

Lonjakan kasus bunuh diri hingga hampir 1.500 kejadian dalam setahun menjadi alarm serius bagi Indonesia. Di balik angka tersebut terdapat ribuan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya dan banyak kisah yang mungkin tidak pernah terungkap.

 

Fakta bahwa lebih dari 80 persen korban merupakan laki-laki menunjukkan perlunya perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mental pria, terutama mereka yang berada dalam usia produktif dan menghadapi tekanan ekonomi maupun sosial yang berat.

 

Penanganan kesehatan mental yang lebih mudah diakses, edukasi yang berkelanjutan, serta lingkungan yang mendukung untuk berbicara tentang masalah psikologis menjadi langkah penting agar tren peningkatan kasus ini tidak terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.

Comment / Reply From